Tampilkan postingan dengan label Trend IT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trend IT. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Mei 2012

Monetizing Web 2.0

Apa itu monetizing Web 2.0. Tentu saja, saya sudah banyak menulis tentang Web 2.0. Kumpulan tulisan saya tentang Web 2.0 dapat dibaca dengan melngklik link dibawah ini:
1. Paradigma Web 2.0 dapat dibaca disini
2. Apa itu Web 2.0 dapat dibaca disini.
3. Paradigma Web 2.0: Agile Process dapat dibaca disini
4. Perspektif Teknologi Informasi dapat dibaca disini


Untuk monetizing, yang saya maksudkan disini adalah sebuah proses mendapatkan value dan benefit (dan kemudian) mengalihkannya dalam bentuk uang. Proses monetizing ini merupakan bagian dari riset saya terkait IT Valuation/Investment. Terkait riset saya tentang IT Valuation/Investment dapat dibaca disini.
Sebelumnya, saya telah menulis tentang fenomena "eyeballs". Awalnya, teknik eyeballs digunakan untuk platform Web 1.0. Eyeballs pada dasarnya berarti "tingkat popularitas". Untuk platform Web 1.0, memang eyeballs bisa dijadikan acuan utama dalam monetizing web, tapi untuk platform Web 2.0 maka eyeballs sudah tidak bisa dijadikan lagi acuan utama. Selengkapnya tentang bahasan saya terkait hal ini dapat dibaca disini. Untuk business model web 2.0 akan saya bahas pada bagian tersendiri. 

Memulai bisnis dengan platform Web 2.0 terasa lebih murah. Ini dikarenakan adanya konsep FREEMIUM (yang sudah dibahas disini). Meskipun sebenarnya, pemahaman FREEMIUN bukanlah benar-benar FREE, tapi free (mendekati nol, tapi tidak benar-benar nol) hanya untuk capital cost (atau biaya modal), bukan untuk biaya operasional. Ini yang harus dipahami secara mendasar oleh siapapun yang ingin berinvestasi pada Web 2.0.

Sekarang ini, tren monetizing Web 2.0 adalah pada iklan. Memanfaatkan Google’s AdSense contextual advertising program merupakan salah satu cara tercepat untuk mendapatkan manfaat dalam  bentuk uang. Tentang hal ini, saya persilahkan untuk melihat-lihat tulisan di www.kawanuablogger.com. Komunitas ini benar-benar merupakan praktisi yang profesional terkait monetizing aplikasi Web 2.0 tipe blog dengan teknik Google AdSense contextual advertising program, dan teknik2 lainnya.

Berikut adalah contoh teknik monetizing Web 2.0
  1. affiliate network
  2. affiliate program
  3. banner ad, contohnya Google AdSense, Yahoo! Publisher Network, Vibrant Media, Kontera and Tribal Fusion. 
  4. cost-per-action (CPA). 5
  5. cost-per-click (CPC)—Advertising that is billed by user click
  6. cost-per-thousand impressions (CPM)—misalnya DoubleClick, dan ValueClick
  7. e-commerce
  8. interstitial ad
  9. in-text contextual advertising, misalnya Vibrant Media, Text Link Ads, Kontera and Tribal Fusion. 
  10. lead generation—Leads are generated when a visitor fills out an inquiry form so that a salesperson can follow through and potentially convert the lead to a sale. Lead generation adalah bagian dari teknik of cost-per-action advertising.
  11. paid blog post misalnya PayPerPost, SponsoredReviews and ReviewMe.
  12. performance-based advertising
  13. premium content—Content on a website that is available for an extra fee (e.g., e-books, articles, etc.)
  14. RSS ad
  15. tagging for profit—A site that buys inbound links or tags from other sites to help increase traffic, and thus increase potential advertising revenue. High-traffic sites can sell tags or links to other websites for a profit. (Caution: Search engines may lower the ranking of sites with paid links.) Misalnya adalah 1000tags.com. 
  16. virtual worlds monetization— misalnya Second Life, IMVU, Habbo, Gaia Online and There.
Bahasan terkait teknik-teknik monetizing Web 2.0 tersebut diatas akan dibahas pada bagian tersendiri. Sebagai bagian dari Catatan Kuliah IT Investment Management, maka setiap mahasiswa diharapkan untuk dapat mempelajari dengan seksama salah satu dari 16 teknik monetizing tersebut diatas, dan membuat sebuah tulisan terkait dengan teknik monetizing tersebut. Link tulisan diposting dibagian komentar tulisan ini.

Apa itu Web 2.0?

Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan saya sebelumnya. Silahkan membaca bagian ini sebelumnya:
1. Paradigma Web 2.0 disini
2. Perspektif Teknologi Informasi disini
3. Paradigma Web 2.0: Agile Process disini 


Demam Web 2.0 sudah menjamur di Kota Manado, dimana-mana, sepanjang mata memandang, generasi muda (dan tua) menggunakan perangkat mobile yang menghubungkan mereka dengan internet. Mereka mewakili apa yang disebut disebut Generasi C (menurut Prof Dr. Rhenal Kasali, C adalah Connected). Generasi C memiliki karakteristik "always on". Selalu berusaha untuk terkoneksi dengan internet, selalu mengupdate status di Facebook, selalu men-twit di Twitter

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah itu yang dimaksud dengan Web 2.0? Silahkan melihat film dibawah ini:


Secara mendasar, terdapat perbedaan pada Web 1.0 dan Web 2.0. Web 1.0 memiliki karakteristik utama "menyajikan" informasi satu arah kepada pembaca. Sedangkan Web 2.0 melibatkan para pembaca, sehingga pembaca pun dapat turut "menyajikan" informasi. Informasi yang disajikan melalu media Web, biasa disebut dengan "content". Sehingga secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam Web 2.0, maka pembaca (atau pengguna) dapat turut serta mengelola, membagikan, menulis-kembali, mengupdate, mengkritisi suatu content yang ditampilkan di Web. Web 2.0 adalah "percakapan" dimana setiap pengguna diberikan kesempatan untuk "berbicara" dan membagikan pandangannya.

Para penggiat dan pakar Web 2.0 menyebut Web 2.0 sebagai "aristektur partisipasi"; yakni sebuah platform yang "memaksa" pengguna untuk berinteraksi dan turut berkontribusi. Sehingga pengguna menjadi "titik sentral" dalam pengelolaan informasi pada platform Web 2.0. Seperti yang dituliskan dalam majalah TIME[1] di tahun 2006, bahwa "Person of the Year was You". Makna yang terkandung pada arsitektur Web 2.0 adalah "pergeseran" paradigma pemberdayaan kekuasaan, dari ... empowered few to empowered many ...
      “We can’t be device centric...we must be user centric.”
             — Bill Gates, MIX06 conference[2]


Kenyataannya, banyak perusahaan-perusahaan yang berbasis Web 2.0  dibangun dengan mengandalkan user-generated content dan harnessing collective intelligence. Signifikansinya adalah bukan sekedar mendapatkan user-generated content, tapi juga bagaimana memanfaatkannya. Google—the leading search engine and Internet advertising  company—merupakan salah satu contoh perusahaan yang sering memanfaatkan user-generated content unk memberikan layanan kepada penggunanya.

Untuk websites seperti MySpace®, Flickr, YouTube and Wikipedia®,  maka user akan "menciptakan" content, sedangkan website tersebut menyediakan platformnya. Intinya adalah perusahaan-perusahaan "mempercayai" para usernya akan menyediakan kontribusi untuk perusahaan tersebut.

Arsitektur partisipasi Web 2.0 juga berlaku dalam pengembangan perangakt lunak. Sebut saja, gerakan Open Source yang mengizinkan kepada siapa saja untuk "menggunakan dan memodifikasi" kode perangkat lunak. Open Source telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam memicu perkembangan Web 2. Termasuk saya sendiri yang menggunakan OS Ubuntu dan browser Chrome untuk menulis blog ini!

Social bookmarking sites seperti del.icio.us and Ma.gnolia memberikan layanan kepada para penggunanya untuk merekomendasikan webswite favorite kepada pengguna lain. Aplikasi social media seperti Digg or Reddit memungkinkan kepada para pembaca untuk menentukan sendiri artikel mana yang penting untuk dibaca dan dibagikan.
Web 2.0 juga memungkinkan kita untuk melakukan tagging (atau labeling) sebuah web  content dengan subject atau kata kunci/keyword, sedemikian sehingga memudahkan kita untuk menemukan "lokasi" dari informasi yang kita butuhkan tersebut di kemudian hari. Juga fasilitas RSS feeds memungkinkan kita untuk mendapatkan update informasi terkini hanya dengan menekan sebuah tombol di perangkat mobile dan desktop kita.

Bagian selanjutnya dari tulisan bersambung ini, saya akan menjelaskan Teknologi dibalik Aplikasi Web 2.0. Misalnya teknologi pengembangan aplikasi Web dengan Ajaz, termasuk XHTML, Cascading Style Sheets (CSS, JavaScript, the Document Object Model (DOM), XML dan the XML HTTP Request object  termasuk sebuah toolkits populer dari Ajax —Dojo dan Script.aculo.us.
Tentu saja, kita tidak bisa melupakan bagaimana mengembangkan aplikasi web Rich Internet Applications (RIAs)— yang memberikan tingkat responsiveness tinggi dan fitur GUI untuk aplikasi desktop. RIAs dibagun dengan memanfaatkan Adobe’s Flex, Microsoft’s Silverlight, ASP.NET Ajax dan Sun’s JavaServer Faces. Juga terdapat terknologi terkini seperti Adobe’s Dreamweaver dan kemampuan Ajax-enabling-nya. Termasuk teknologi seperti JSON, the web servers IIS dan Apache, MySQL, PHP dan ASP.NET

Sumber Kutipan:
[1] Grossman, L. “TIME’s Person of the Year: You.” TIME, December 2006 
[2] Bill Gates: Microsoft MIX06 Conference.” Microsoft, March 2006 

Kamis, 03 Mei 2012

Inovasi e-University

PERUBAHAN!!!
Saya kira kata magis ini yang semakin menjamur dimana-mana. Panggung politik, dari level internasional hingga lokal, mengusung tema ini sebagai ikon. Begitu pun dalam dunia pendidikan. Tapi benarkah PERUBAHAN benar-benar diimplementasikan?
Just recently, saya diberi tahu lewat ACM (atau Association Computer Machinery, dimana saya adalah salah satu membernya) bahwa MIT telah memulai program PERUBAHAN yang disebut MITx. Program MITx ini dipelopori oleh seorang peneliti Anant Agarwal (Staf Pengajar Senior MIT, yang telah berpengalaman mengajar selama 20 tahun, dalam bidang Circuits and Electronics). Penjelasan langsung tentang proyek MITx ini diterangkan disini.


Pada intinya, menurut Prof Anant Agarwal, MITx adalah sebuah initiatives untuk Open Learning Enterprise, yang akan memberikan kesempatan luas kepada semua mahasiswa untuk berkolaborasi dalam belajar.
Belum sempat saya mempelajari dengan lengkap tentang MITx, maka (kembali) melalui Prof @erikbryn (Harvard University) saya diberi tahu bahwa Harvard University dan MIT telah memulai kesepatan untuk mengembangkan sebuah proyek yang disebut EDx, yakni "bergabungnya" Harvard University dalam proyek MITx-nya Prof Anant Agarwal. Lihat berita selengkapnya disini.
Saya "terkejut" akan begitu cepatnya kedua raksasa lembaga pendidikan tinggi ini melakukan kerjasama antar-lembaga untuk suatu proyek REVOLUSIONER, yang akan mengubah wajah-pendidikan di masa depan. Kedua universitas raksasa tersebut telah membuktikan bahwa hambatan-hambatan politis TIDAK BERLAKU untuk dunia pendidikan tinggi.



Di Universitas Sam Ratulangi Manado sendiri, baru saja memulai studi tentang e-Learning, bekerja sama dengan Institut 10 November Surabaya (ITS) dan Kumamoto University Jepang. Riset tentang e-Learning akan disponsori oleh JICA Jepang. Pertemuan initiatives, dilaksanakan dengan menggunakan teknologi videoconfrence. Sepertinya, kita "benar-benar" telah tertinggal. Karena kerjasama kelembagaan antara Unsrat - ITS - Kumamoto ini baru terjalin diantara "pribadi" antar-dosen, belum merupakan "mou"antar lembaga. Risetnya pun baru akan dimulai, sementara Harvard dan MIT telah masuk pada tahap implementasi.
Saya kira, kita tidak perlu rendah diri. Paling tidak, sebuah contoh telah dilakukan oleh MIT dan Harvard University. Sebagai seorang peneliti, kita tidak perlu malu untuk belajar dari kedua-raksasa pendidikan ini, sambil kita melakukan adjustment, menurut budaya asia (Unsrat - ITS - Kumamoto). Saya yakin, terobosan bisa terjadi dalam project ini. Dan saya bangga, ikut terlibat dalam PERUBAHAN ini.
Pagi ini, saya men-tweet: 
@stanlysk: *semoga* jalan-panjang menuju ideal-platform e-University yg sesuai dgn budaya asia, bisa SEGERA dipatenkan oleh Unsrat-ITS-Kumamoto

Catatan:
Saya menulis tulisan blog ini dengan menggunakan koneksi internet Unsrat, dgn kecepatan 1 GB/s, sambil mengunduh aplikasi Google Drive (free media storage 5 GB dari Cloud Computing Google), menunggu para mahasiswa untuk memberi kuliah Analisa dan Perancangan Sistem!

Rabu, 02 Mei 2012

Paradigma Web 2.0: Agile Process

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Paradigma Web 2.0 bagian pertama yang telah saya tulis sebelumnya disini. Jika pada tulisannya sebelumnya, saya cenderung menyoroti adanya suatu perubahan paradigma dalam platform Web 2.0, maka pada bagian ini, saya akan menyoroti beberapa faktor pemicu akselerasi Web 2.0 itu.
Keilmuan Informatika merupakan keilmuan yang berkembang pesat, karena dinamis dan mengglobal. Dari sudut pandang saya, maka akselerasi perkembangan Web 2.0 itu dapat dilihat dari beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah process, people and technology.
1. Process
Process yang saya maksudkan disini adalah proses pengembangan perangkat lunak aplikasi. Sebenarnya Web 2.0 adalah produk perangkat lunak, dimana perangkat lunak ini, dibangun dengan disiplin software engineering. Nah, dari kacamata software engineering, maka pengembangan aplikasi perangkat lunak harus mengikuti SDLC atau Software Development LifeCycle. Bahasan tentang metodologi SDLC selengkapnya bisa dilihat pada tulisan2 saya disini, disini dan disini. Ketiga metodologi yang telah saya tuliskan itu merupakan metodologi pengembangan perangkat lunak dengan paradigma SDLC dan telah terbukti ampuh menjawab permasalahan pengembangan aplikasi.



Memasuki era 2000- an, maka muncul suatu pendekatan baru dalam pengembangan aplikasi perangkat lunak, khususnya aplikasi perangkat lunak berbasis web. Pendekatan tersebut adalah pendekatan agile.
Pendekatan agile software development pada aplikasi perangkat lunak berbasis web, sangat mempersingkat waktu pengembangan aplikasi. Biasanya dibutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan setahun lebih untuk mengembangkan sebuahbaplikasi berbasis web, tapi dengan metodologi dgn pendekatan agile, maka menghasilkan produk software menjadi lebih singkat. Kuncinya sebenarnya ada pada menghasilkan "beta released" dari suatu aplikasi dan komitmen stakeholders dalam membuat perangkat lunak. Dengan menunjukkan terlebih dahulu kepada stakeholders suatu working - software dalam versi beta released, maka time to market sebuah aplikasi dapat dipercepat.
Selain itu pendekatan agile juga bersifat lebih responsive terhadap perubahan requirement. Kita tahu bersama, dalam pengembangan suatu aplikasi perangkat lunak, perubahan requirement sering terjadi. Saat sebuah perangkat lunak direleased untuk digunakan organisasi, biasanya perangkat lunak tersebut "mengikuti" proses bisnis tertentu dalam organisasi. Dalam dunia bisnis, perubahan proses bisnis seringkali menjadi "mati hidupnya" suatu organisasi. Dengan karakteristik agility, maka aplikasi perangkat lunak yang dibangun untuk mendukung proses bisnis, dapat diubah, disesuaikan dalam waktu yang relatif singkat.
Prinsip pendekatan agile selengkapnya  dapat ditemukan pada Agile Alliance. Prinsip dasarnya menjelaskan bahwa pendekatan agile dalam disiplin ilmu teknik informatika diperlukan untuk mengurangi kelambanan dalam tahapan pengembangan perangkat lunak, guna mengantisipasi kebutuhan bisnis yang menuntut dihasilkannya perangkat lunak dengan time-to-market yang singkat. Pendekatan Agile juga berarti sebagai suatu tim yang siap merespons perubahan, yakni perubahan kebutuhan pengguna. Dalam pemahaman ini berarti setiap tim pengembang harus erat bekerja sama dengan pengguna dalam mengembangkan aplikasi berbasis web. Kolaborasi pengguna dan pengembang sangat krusial dilakukan untuk mengantisipasi adanya perubahan dalam kebutuhan perangkat lunak. Tanggap mengantisipasi perubahan merupakan ciri utama dari pendekatan agile. 
Dalam pengalaman saya mengembangkan aplikasi perangkat lunak, maka menggunakan paradigma Agile adalah "susah susah gampang" (dialek Manado, yang berarti kondisi kerja yang mudah namun di saat yang bersamaan bisa menjadi sulit). Tantangannya disini adalah bagaimana mendapatkan stakeholders yang memiliki komitmen, dan menemukan programmer yang ready. Untuk situasi dan kondisi di Manado (hingga tulisan ini dibuat, 2012), maka kombinasi stakeholders yang berkomitmen dengan programmer yang ready, SUKAR ditemukan. 
Implementasi pendekatan agile relatif lebih mungkin dilakukan dalam situasi dan kondisi pengembangan keilmuan, misalnya dalam penyelesaian Kerja Praktek dan Tugas Akhir mahasiswa. Untuk inipun, masih sebatas pada metodologi Agile - Unified Proces; yang pada dasarnya bukanlah metodologi ägile" yang original, karena masih "dikaitkan" dengan Unified Software Development Process.

2. People
Saya berpendapat bahwa perkembangan Web 2.0 yang pesat ditunjang oleh manusia itu sendiri. Kita tidak bisa melupakan jasa para software engineers yang melakukan riset-riset terkait yang mendukung kelahiran Web 2.0 dan teknologi jaringan komputer. Sebut saja Tim Bernes Lee dari CERN. Kemudian Bill Gates dari Microsoft dan Steve Jobs dan Steve Wozniak dari Apple. Saya secara pribadi mengagumi Dennis Ritchie yang mengembangkan bahasa C. Bahasa C ini menjadi dasar pengembangan berbagai aplikasi yang mendukung lahirnya aplikasi perangkat lunak berbasis web. Linus Trovalds juga merupakan salah satu tokoh yang perlu disebut. Bagian ini saya akan jelaskan pada tulisan yang tersendiri.

3. Technology.
Secara mendasar, teknologi yang mendukung perkembangan Web 2.0 dapat dibagi menjadi 3 bagian: 1) hardware, 2) jaringan dan 3) software. Bagian ini pun saya akan tuliskan tersendiri.

Jumat, 06 April 2012

Paradigma Web 2.0

Ssejak ditemukannya teknologi Wi-Fi pada perangkat mobile-phones, dunia seperti kecanduan "mengakses internet" dan melihat konten web. Dalam dunia pendidikan mulai terbiasa kita dengar: "Nyari aja jawabnya di google!" Atau "Kirimkan tugas anda via e-mail". Orang tua beramai-ramai melengkapi anaknya dengan iPhone, iPad, Blackberry, Samsung Galaxy Tab dan berbagai jenis laptop dengan kecepatan prosessor yg makin cepat dgn daya tampung memori yang makin besar.

Sekitar tahun 2004/2005, Tim O'Railey memperkenalkan sebuah kata magis: Web 2.0! Tim menyebutkan kata ini karena melihat fenomena baru dalam menggunakan aplikasi-aplikasi berbasis web, yakni maraknya aplikasi sosial media seperti Facebook, MySpace, Youtube, Flicker, Wikipedia dan Twitter. Menurut pengamatan Tim, telah terjadi perubahan signifikan dalam web, dimana dahulunya pengguna internet hanya bisa membaca (READ) informasi pada sebuah web, sekarang setiap pengguna internet dapat membaca dan menulis (READ and WRITE) tanggapan atas suatu konten informasi yang ada dalam web.

Ini berarti telah terjadi "perubahan". Perubahan ini seperti gelombang tsunami yang menyapu bersih semua yang ada didepannya. Tidak ada satupun bidang kehidupan masyarakat, yang tidak terkena pengaruh gelombang tsunami perubahan ini, yang terjadi secara "tanpa ampun" dan "tak kenal lelah".

Thomas L. Friedman dalam bukunya The World is Flat menuliskan ini:
Trio konvergensi ini: pemain baru, lapangan permainan yang baru, proses dan kebiasaan baru; merupakan kekuatan utama yang saya percayai akan membentuk politik dan ekonomi global di abad ke-21. Dengan memberikan kepada begitu banyak orang akses atas semua sarana untuk kolaborasi, disertai kemampuan, serta melalui mesin pencari dan web untuk mengakses miliaran halaman informasi mentah, memastikan generasi inovasi selanjutnya akan dari semua pelosok planet bumi yang datar. Komunitas global sebesar ini dalam waktu singkat dapat berpartisipasi dalam berbagai penemuan dan inovasi yang belum pernah terjadi di bumi ini.
(dikutip dari The World is Flat - Sejarah Ringkas Abad ke-21, Thomas L. Friedman, (c) 2006 Dian Rakyat, Indonesia)

Thomas Friedman, seorang reporter visioner yang telah melihat akan adanya paradigma baru dalam manusia dalam melakoni hidup di abad ke-21. Paradigma baru tersebut akibat adanya "pendataran" bumi oleh 10 faktor pendatar, yang menghasilkan paradigma konvergensi, yakni munculnya suatu generasi baru (generasi digital), munculnya arena kehidupan manusia yang baru (komunitas dunia-maya) dan munculnya aturan, gaya hidup, cara kerja yang baru (kolaborasi, online dan real-time).

Saya menyebut trio-konvergensi Thomas Friedman sebagai paradigma dunia baru, dunia digital yang modern. Di berbagai dusun yang kita sebut Planet Biru: bumi, bermunculan pengguna internet baru, dengan menggunakan media yang baru dengan gaya, style dan cara-kerja yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Lihat saja di kampung halaman saya: kota Manado. Mulai bermunculan beberapa orang yang memperkenalkan dirinya sebagai @irairsu, @dskymc, @manadokota, @provsulut ataupun @karlotaa_ (managed by @giofaniandry). Nama-nama ini merepresentasikan trio-konvergensinya Thomas Friedman: pemain-pemain baru, dalam arena permainan yang baru, dengan aturan yang baru. Nama account tersebut diatas mewakili seorang pribadi yang nyata. Mereka melakoni kehidupan dunia-maya dalam "negara" yang disebut: twitter. Mereka eksis dan sangat aktif meng-tweet, me-reply, meng-quote, me-retweet dan ber-DM.

Saya setuju dengan Thomas Friedman, bahwa trio-konvergensi telah hadir dan menjadi pendatar bumi. Tapi menurut hemat saya, bumi, baru saja memasuki fase yang sangat awal dari pendataran dunia yang sebenarnya. Kita belum sampai pada puncak pendataran dunia yang sesungguhnya, dengan setiap implikasi dunia-datar yang belum kita ketahui secara pasti. Sebagai seorang pengamat dan peneliti aktif dalam bidang pemanfaatan Web 2.0, maka saya belum menemukan bukti yang signifikan mengenai besaran terukur dari manfaat trio-konvergensi ini. Setidaknya pengamatan saya bernilai dalam konteks kota Manado.

Terlalu prematur untuk mengatakan bahwa tidak ada manfaat yang terkuantifikasi, namun terlalu gegabah juga untuk mengatakan ada manfaat yang terkuantifikasi. Sebagai seorang yang menekuni keilmuan Informatika, saya hanya dapat mengatakan bahwa dunia-baru telah hadir, dan kepastian bahwa dunia-baru itu akan mempengaruhi kita, merupakan suatu kesimpulan-logis yang tak terbantahkan. Tetapi menyanglut besaran pengaruh (misalnya pemanfaatan) dunia-baru tersebut, kita masih terlalu dini untuk memberi penilaian, justifikasi dan pendapat. Kita perlu mengembangkan tools dan alat-ukur yang lebih komprehensif dalam menilai manfaat dunia-baru ini. (cat: untuk research-research mengenai pemanfaatan Teknologi Informasi masih dalam tahap penelitian, yang belum dipublikasikan).

Satu hal yang pasti: perubahan telah datang. Dan saya memilih untuk turut serta dalam gelombang-pasang trio-konvergensi dunia datar. Turut serta menjadi pelaku, turut serta mengarungi arenan permainannya, turut serta mengubah style-of-life saya sebagai warga-negara dunia-datar. Saya memulainya dengan mengubah paradigma saya: Life is change, growth is option. Choose wisely!

Rabu, 04 April 2012

Generasi 4L4Y5 - 484b1L5




Pengantar Tulisan:
Masih ingatkah para pembaca dengan nyanyian ini: HOM PIM PA 4L4Y-IUM GAMBRENG ...???
 
Beberapa waktu lalu, tepatnya di hari Kamis, 21 Januari 2011, saya diundang oleh Pak Odi Kaunang (host Radio TalkShow SMART Digital Lifestyle) untuk turut serta bersama beliau, dalam acara Seminar dan Bedah Buku SMART Digital LifeStyle. Acara ini diselenggarakan di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fakultasi ISIP) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Sponsor acara adalah Radio SMART FM dengan didukung oleh kalangan akademisi dan mahasiswa jurusan Komunikasi ISIP Unsrat.

Menarik perhatian saya, karena buku yang diberi judul DIGITAL LIFE STYLE ini ditulis (dan dirangkum) oleh Pak Odi; yang selain adalah host acara Radio Talk “Digital Life Style” SMART FM, juga merupakan akademisi Teknologi Informasi (TI) sekaligus professional TI (pemimpin salah satu perusahaan konsultan Manajemen TI). Selain Pak Odi, juga ada beberapa “penulis” lain dalam buku tersebut. Masing-masing penulis, memaparkan hal ikhwal yang terkait tentang “tetek-bengek” Teknologi Informasi. Saya sendiri dimintakan menulis satu bab, yang diberi judul “Perspektif Teknologi Informasi”. Hal mana, bab tersebut merupakan bab terakhir dalam buku DIGITAL LIFE STYLE, sehingga, menurut hemat saya, sedikit menggambarkan “kesimpulan” dari seluruh bahasan dalam buku tersebut. (Tentang tulisan ini selengkapnya, sudah dimuat dalam salah satu blog Pak Odi Kaunang di ... http://odikaunang.blogspot.com/ …………)

Nah, yang “semakin” membuat keheranan saya adalah pihak penyelenggara acara tersebut (selain SMART FM); juga adalah pihak akademisi dan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, jurusan Komunikasi. Sudah jelas, isi dari buku DIGITAL LIFE STYLE adalah “kelakuan” (dalam dialek Manado; artinya “perilaku” atau “gaya hidup”) yang terkait Teknologi Informasi. Awalnya, saya mendapat “kesan” bahwa kegiatan ini seperti “ga nyambung”. Mengapa harus ada “bedah buku” yang berbau Teknologi Informasi dalam komunitas akademik Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Kesan saya, langsung berubah “180 derajat”; saat tiba di lokasi penyelenggaran dan terlibat dengan percakapan serius dengan Pembantu Dekan, yang saya panggil “Engku Max”. Beliau, yang sudah memasuki usia “paruh-baya” sarat dengan pengalaman sebagai seorang pendidik dalam lembaga pendidikan tinggi formil dan organisasi keagamaan yang berbau “pendidikan”. Dari percakapan serius dengan beliau saya mendapatkan banyak “insight” dan “pandangan” orisinil terkait paradigm pendidikan; pengaruh Teknologi Informasi dalam disiplin keilmuan Komunikasi; dan keterkaitan erat antara Teknologi Informasi dengan “social impact” dalam kehidupan segenap lapisan masyarakat.

SCL BLENDED adalah salah satu “insight” yang saya dapatkan dalam percakapan dengan “engku Max”. SCL BLENDED sebenarnya bukanlah “barang” baru. Dan sudah pasti, kata ini tidak ada dalam “vocabulary” Inggris modern. Sejujurnya, saya lebih suka menyebut ini sebagai bahasa “Inggris” yang di “Indonesia” kan. [:D:D:D]

SCL BLENDED; atau Student Centered Learning BLENDED; lebih merupakan akronim dari paradigm dan metode “baru” yang saya yakini dalam melakukan “pendidikan” khususnya di kalangan perguruan tinggi. Entah istilah ini baru ataupun lama (namun saya yakin, ini merupakan istilah lama). Namun, saat mendapat “pemahaman” baru; maka saya merasa sepertinya ini merupakan hal yang “baru”? Sungguh sangat subyektif. [hehehehe].

Studen Centered Learning adalah paradigma yang menempatkan “student” atau “mahasiswa” sebagai subyek pendidikan. Nilai seorang “student” dialihkan dari sekedar obyek menjadi subyek; sebagai pelaku utama dalam proses bisnis pendidikan. Praktisnya, jika di waktu-waktu lalu, kita (termasuk saya tentunya) dibesarkan dalam lingkungan pendidikan yang berpusat pada “teacher” atau disebut “Mneer” (dalam dialek Manado) sekarang ini “pusat” proses bisnis pendidikan harus dialihkan kepada “mahasiswa”. Masih pekat dalam ingatan saya, saat berkuliah dulu, saking “sakti”-nya seorang Mneer dihapadan mahasiswa; maka apabila kami berpapasan dengan seorang “Mneer”; sepertinya rasanya mau lari “tumingkas” (dialek Manado yang berarti lari menghindar terbirit-birit).

Sekarang, paradigma pendidikan tinggi yang seperti itu, “rasanya’ sudah tidak cocok lagi untuk diyakini, dimaknai dan diaplikasikan dalam suasana pendidikan tinggi di abad informasi seperti sekarang ini. Pengaruh “tanpa ampun” dan “tanpa henti” dari “social media”; sedikit banyak telah mengubah konteks atau suasana pendidikan tinggi. Kebebasan informasi menandai suatu babak baru (shifted-era) dalam pola masyarakat berkomunikasi, termasuk dalam “komunikasi” antara semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan tinggi khususnya.

Ide inilah yang saya tangkap saat bertukar pikiran dengan “Engku Max”. Beliau, yang berlatar belakang seorang ahli dalam disiplin ilmu “komunikasi”; termasuk komunikasi sosial; telah memahami betapa pengaruh Teknologi Informasi itu dalam penemuan sarana komunikasi dan “content” komunikasi itu sendiri.
Inilah yang saya maksudkan dengan BLENDED. Istilah BLENDED lebih cenderung pada memanfaatkan setiap metode-metode atau sarana komunikasi sosial yang lebih “advance” atau lebih up-to-date. Jika, di waktu-waktu lampau, seorang “Mneer” hanya menggunakan metode tunggal dalam member kuliah (yakni tatap-muka dan ceramah); maka sekarang ini, dengan SCL-BLENDED, seorang “Mneer” harus bisa sedikit bervariasi dalam metode pengajaran; dengan mengadopsi semua “teknik” yang telah disediakan oleh “Teknologi Informasi”.

Implementasi SCL BLENDED bisa bermacam-macam, mulai dari pemanfaatan LCD Projector hingga kuliah e-Learning dalam kelas terbuka (bukan dalam ruang kelas konvensional), dengan memanfaatkan infrastruktur jaringan internet (dimana di Universitas Sam Ratulangi, telah cukup memadai).

Intinya adalah suatu perubahan paradigm pendidikan HARUS terjadi. Harus terjadi pada “mahasiswa” maupun “Mneer”. Mahasiswa, sebagai subyek pendidikan harus mulai mengubah ‘life-style’ berkuliah selama ini. Paling tidak, perubahan life-style itu harus terjadi dalam hal antusiasme dan keterlibatan.

Tidak boleh lagi ada mahasiswa yang berharap, bahwa saat datang kuliah, telah tersedia “makanan” siap-saji. Sekarang ini, mahasiswa sendiri yang harus “meramu”, “menyiapkan” dan kemudian “menyantap” makanan tersebut. Ini berarti mahasiswa HARUS aktif dan dinamis dalam belajar. Tidak boleh bersikap “menunggu bola”; tapi harus bersikap “menjemput bola”. Ini yang saya maksudkan dengan “antusias”.

Forum diskusi, baik face-to-face maupun dalam forum digital merupakan “bukti” tentang KETERLIBATAN mahasiswa. Ketrampilan berdiskusi termasuk diantaranya kemampuan mengemukakan ide/gagasan ataupun memaparkan ide/gagasan secara terstruktur merupakan ketrampilan yang harus dikuasai. Kecenderungan yang saya dapatkan dalam perkuliahan adalah mahasiwa bertindak seperti “anggota dewan” yang terhormat; yang terkenal dengan slogan 4D (datang, duduk, diam, duit).

Hari ini, saya menulis status facebook saya seperti ini: ….
".. mengajar Generasi #4L4Y5, dengan kurikulum berbasis #4L4Y, menggunakan metode #4L4Y, untuk menghasilkan Generasi #4L4Y5 Terbaik, bagi Nusa dan Bangsa #4L4Y tercinta ... Kuliah Perdana: Menyanyikan Lagu Kebangsaan #4L4Y5 [sing] hom pim pa "4L4Y"-ium gambreng [sing] (oooiiii, yang bener nyanyi-ny ya ...)"

Status ini merupakan “seruan” hati saya untuk PERUBAHAN. Apakah kita akan menjadi Generasi 4L4Y5? yang pada akhirnya akan menentukan kelangsungan hidup bangsa di masa mendatang.

Akankah Republik Indonesia BENAR-BENAR menjadi Republik 4L4Y5 … karena masyarakatnya, mahasiswanya, dosen-dosennya HANYA BISA bermain dan bernyanyi HOM PIM PA 4L4Y-IUM GAMBRENG ???

Sabtu, 31 Maret 2012

Akun Twitter @manadokota, Amoy Show dan @stanlysk

(tulisan ini sudah pernah diterbitkan sebagai Notes Facebook, namun diterbitkan kembali dengan perubahan seperlunya, dalam rangka memperingati hari Ulang Tahun @manadokota yang ke-2, 25 Maret 2012)

[Petunjuk untuk membaca tulisan ini: @stanlysk dibaca sebagai saya]

Pengantar Tulisan:
@manadokota: Ka, bsk siang kt diundang di amoy show pacific tv ttg @manadokota boleh dg kk sbg panelis pakar IT? :)
@stanlysk: o ya? jam brpa? besok kita ngajar sampe siang ... selesai ngajar baru bisa ... :D 
@manadokota: jam 1 ka mulai take syuting, plis ka hehehe,.. ngajar sampe jam brp? kk bw kendaraan? ato nanti kt jemput *babuju* 

Demikianlah, hingga pada akhirnya, Kamis, 27 Januari 2011, pukul 13.30, @stanlysk datang ke Pacific TV, di wilayah seputaran daerah Winangun (Jl. Anugerah). @stanlysk sedikit terlambat datang ke studio; selain disebabkan karena cuaca Kota Manado yang “malo-malo mau” mo hujan deras, juga karena jarak tempuh @stanlysk menuju ke Studio Pacific TV yang lumayan jauh (hari itu @stanlysk harus menunaikan tugas mengajar para mahasiswa Informatika – Unika De La Salle, di seputaran negeri Wonasa).

Menarik dicermati, karena @stanlysk berkomunikasi dengan @manadokota; tidak lagi menggunakan “sarana” komunikasi “normal”. Selama ini (sebelum hari Kamis, 27012011), @stanlysk TIDAK PERNAH bertemu muka-dengan-muka dengan makhluk ciptaan Tuhan yang menyebut dirinya @manadokota (kita sebut saja dia, admin @manadokota). Ternyata, orang-dunia-nyata dari Admin @manadokota ini memiliki pribadi yang sangat attraktif, visioner dan pragmatis.

Nah, admin @manadokota ini, @stanlysk kenal secara akrab (atau “merasa sangat kenal”?) dari kicau twitter-an nya yang sangat informatif. Iya, sangat informatif, apalagi berkenaan dengan informasi yang terkait day-to-day kehidupan twitterati (baca: warga negara twitter) yang hidup di “dusun” Kota Manado. Sebut saja salah satu contoh, misalnya pada hari minggu, 23 Januari 2011, admin @manadokota men-twit sebuah seruan #moral untuk semua followers-nya (baca: semua yang “bisa” melihat “kicau”-an) untuk melakukan #doa buat Kota Manado pada pukul 12.00 waktu Manado. Nah, respons yang sangat “sibuk” mulai terlihat melalui “REPLY” (fasilitas twitter untuk “membalas” sahutan twitter yang lain), "QUOTE" (fitur twitter untuk menampilkan kembali isi twitter dengan perubahan seperlunya) ataupun "RT" (fasilitas twitter untuk “menampilkan-ulang sahutan twitter yang lain) akan kicauan admin @manadokota. Hmm, bukankah ini hal yang biasa terjadi? Iya, peristiwa ‘sahut-menyahut’ (melalui RT, QUOTE dan REPLY) kicauan twitter seseorang memang hal yang biasa terjadi. Namun, mari kita lihat konteks-nya. Followers akun @manadokota sekitar 9000-an orang (sekarang, menjelang hut yang kedua, followers @manadokota sudah berjumlah lebih dari 40.000 followers). Wow, ini merupakan akun twitter yang “fantastis” jika diperbandingkan dengan jumlah “warga” kota Manado yang menggunakan akun twitter. Tambahan lagi, dalam “kasus” ajakan #moral dari admin @manadokota ini, yang turut me-RT dan me-REPLY seruan moralnya itu sekitar 6000-an akun pada garis-waktu (terjemahan “timeline” dari twitter; yang menunjukkan “sejarah” postingan dari akun twitter seseorang). Alhasil, kita dapat berasumsi bahwa ada sekitar 6000-an orang Manado yang mengetahui dan (kemungkinan besar) melakukan anjuran admin @manadokota untuk melakukan doa buat Kota Manado tercinta. Gila cing … ini merupakan suatu kebangkitan “gerakan” yang ruarrrr biasaaa. Hanya dalam beberapa jam (sekitar 2-3 jam saja); maka admin @manadokota TELAH berhasil menghimpun “kekuatan” dan menggerakkan “kekuatan” tersebut untuk melakukan suatu kegerakan #moral. @stanlysk langsung bertanya-tanya dalam hati; dengan tidak bermaksud menyinggung kelompok religius tertentu … Apakah ada dari antara mereka yang mengaku hamba Tuhan (sebut saja Pdt, penginjil, Gembala, etc) yang saking kuatnya “charisma” mereka, dapat “mengumpulkan”, dapat “menggerakkan”, dapat “melibatkan” ribuan orang untuk berpartisipasi dalam suatu gerakan #moral? Oooopss, mohon maaf; karena tulisan ini hanya sekedar memberi contoh-belaka, dan SUDAH PASTI tidak dimaksudkan untuk menyinggung pihak-pihak tertentu. @stanleydavid hanya mencoba untuk “menggambarkan” betapa kuatnya “pengaruh” dari seorang admin @manadokota; hanya dengan “satu kali” berkicau melalui akun Twitter-nya.

Dan rupa-rupanya, karena “peristiwa” seperti diataslah (dan banyak “peristiwa” lain yang sejenis) yang membuat @brendachuy (sekarang sudah berganti nama akun menjadi @brendot) dari Pacific TV melihat ini sebagai suatu “fenomena” yang perlu diangkat oleh media televisi. O iya, akun @brendachuy ini dimiliki oleh seorang pekarya di studi Pacific (selengkapnya tentang @brendachuy, tentu saja dapat diketahui dengan meng-follow akun @brendachuy; karena saya lihat, akun @brendachuy juga “sangat aktif” time-line twitternya). Singkat cerita, @brendachuy mengundang admin @manadokota untuk “datang” ke Paficic TV, sambil berpesan bahwa admin @manadokota harus membawa sedikit diantara para “followers” komunitas @manadokota.

Akhirnya, di hari kamis, 27 Januari 2011, pukul 13.00; kami semua dapat kop-dar (baca: kopi darat, berarti pertemuan di dunia nyata atau tatap-muka diantara para pegiat dunia-maya). Bung Admin @manadokota mengajak para followers @manadokota dari berbagai “kalangan” (sekali lagi, ini merupakan “kejelian” dari Bung Admin @manadokota yang pantas diacungi jempol). Ada @stanlysk (yang “dianggap” mewakili kalangan akademisi, praktisi dan professional TI), @brendachuy (dari Pacific TV), @glenglenry (mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi, pengguna Twitter), @achawatania (mahasiswa Fakultas Kedokteran - Universitas Sam Ratulangi, pengguna Twitter juga adalah Noni Manado 2010), @trivenaa (siswa, pengguna Twitter, bermukim di Tondano), @victorrahmadian (PNS Kota Manado, pengguna Twitter), @adamjo (mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi - Universitas Sam Ratulangi, pengguna Twitter); kami semua dipimpin oleh bung admin @manadokota sendiri, yakni @piet_pusung tentunya ... *wink*wink.

Sebelum “tapping” (istilah para kru-TV untuk mengambil rekaman video) dimulai, kami kemudian melakukan pembicaraan “serius” mengenai beberapa tips praktis dalam mendaya-gunakan Twitter. Tidak banyak yang bisa di-sharing disini mengenai aktivitas kami selama “tapping” untuk Amoy SHOW selengkapnya bisa dilihat sendiri di Acara Amoy SHOW, setiap Hari Rabu, pukul 8 malam di Paficic TV Manado. Sepertinya acara kop-dar kami para anggota komunitas @manadokota hanya punya menu pembuka, menu utama dan menu penutup yang sama dari awal hingga akhir, yakni menu makanan #ngakak, #ROTFL, #LOL.

Pertemuan ini diakhiri dengan kop-dar lanjut di Pizza Hut – Manado TownSquare. Setelah bincang-bincang dalam suasana penuh keakraban, kami semua setuju untuk membawa komunitas @manadokota untuk melangkah lebih jauh dengan melakukan kegiatan bakti sosial, pelatihan, dan lain-lain sebagainya.

@stanlysk sangat terkesan dengan fenomena seperti ini. Jika dipikirkan lebih jauh, fenomena “socially-engaged” (keterlibatan-sosial) mulai marak terjadi di dunia-maya, seiring munculnya media-media yang memungkinkan terjadinya “keterlibatan-sosial” seperti ini. Sebut saja, Friendster, MySpace, Facebook dan yang terakhir muncul adalah Twitter. Semua media-sosial yang disebutkan tadi, bisa dilahirkan di dunia-nyata karena “dikandungi” oleh teknologi Web 2.0 (pahamilah Web 2.0 sebagai “kelanjutan” dari Web 1.0). Jika kita ingin memahami apa itu Web 2.0 maka kita harus melihat definisi dari O’Reilley (lihat disini: http://oreilly.com/ ) sebagai Sang Pencetus Web 2.0 pertama kalinya. Secara praktis, kita  bisa memahami bahwa dalam Web 2.0, kita – sebagai pengguna – bukan hanya sekedar “membaca” informasi yang ada, namun juga dapat turut “menulis” dan/atau “menulis-ulang” informasi yang kit abaca tersebut. Ditambah dengan kehadiran teknologi mobile-internet, maka kegiatan “membaca’, “menulis” ataupun “menulis-ulang” ini dapat dilakukan dengan menggunakan “SmartPhone”, “BB”, “iPhone”.

Tak dapat dipungkiri, ini merupakan “fenomena” sosial yang semakin nyata dirasakan akibat-akibatnya. Untuk itu, para “pegiat” social-media seperti @stanlysk, @manadokota, dll harus memiliki suatu paradigma dan perilaku yang “baru”. Intinya adalah melakukan PERUBAHAN. Dan “perubahan” ini harus terjadi dalam tataran “paradigma” atau “cara memandang”, “cara berpikir” kita dalam ber-socially-engaged.

Mari kita lihat ulasan dari Soren Gordhamer (@SorenG) mengenai beberapa aspek perubahan “social-engaged”:
1) Paradigma Lama: “Force people to do what you want”; Paradigma Baru: “Give people what you want them to offer”.
Pelaku socially-engaged dalam dunia-digital harus memiliki paradigm “memberikan kepada orang lain apa yang kau inginkan mereka berikan”. Atau dalam paraphrase lain, “memberi” terlebih dahulu untuk kemudian “menerima”, apa yang ingin kita terima. Singkatnya, “memberi” sebelum “menerima”. (menurut pendapat @stanlysk).
Perubahan paradigm ini benar-benar revolusioner. Meskipun jika kita mencoba untuk memaknai lebih mendalam, hal ini bukanlah “baru” hasil temuan manusia abad informasi-digital. Para filsul Yunani dan China sudah pernah merumuskan perubahan paradigma ini dalam “bahasa” filosofis yang sedikit berbeda, namun memiliki makna yang sama.

2) Paradigma Lama: “Just put your body in the room”; Paradigma Baru: “Show up with a crative, open mindset”.
Keterlibatan-sosial dalam era informasi digital harus mengubah gaya berpikir secara fundamental. Jika sebelumnya, pergaulan komunitas kita telah terbiasa untuk berkomunikasi dengan bahasa-rata (maksudnya biasa-biasa saja); sekarang ini , kita harus berkomunikasi dengan memberikan “makna” baru yang kreatif, dengan pikiran yang terbuka.
Perubaha paradigma seperti ini, cukup sulit dilakukan. Apalagi, kita telah terbiasa dididik dan hidup dalam lingkungan yang bergaya “kolonialis”. Kita telah dikondisikan bertahun-tahun untuk menjadi masyarakat “YES” (baca: diam dan patuh saja), masyarakat “ABS” (baca: Asal Bapak Senang) dan masyarakat “APA JO NGANA SUKAAAAA” (baca: pasrah, cuek dan apatis).
Memasuki era informasi-digital dengan media facebook. Twitter, dsb untuk berkomunikasi, maka perubahan “socially-engaged” harus terjadi. Hal ini tidak bisa terhindarkan.

3) Paradigma Lama: “Work to get a paycheck”; Paradigma Baru: “Make your work about something bigger”.
Paradigma ini sebenarnya dapat ditulis dengan satu kata saja: “antusias”. Jika di waktu-waktu sebelumnya kita bekerja dan berkarya hanya untuk mendapatkan tujuan-tujuan yang materialis-konsumtif, maka di era informasi digital sekarang ini, ‘socially-engaged’ kita haruslah “antusias” untuk bekerja dan berkarya dengan tujuan yang lebih besar, lebih tinggi dan lebih bermakna.

Mengikuti kesimpulan dari penulis diatas maka dalam paradigma lama, socially-engaged menekankan pada individualistic dan berfokus pada penonjolan pribadi, maka dalam paradigma baru, yang harus terjadi adalah bukan saja menekankan kemampuan pribadi, namun juga kemampuan “bekerja-bersama”. Tentu saja, kita tidak bisa sekedar mengabaikan seorang pribadi dengan kemampuan “super”. Namun alangkah baiknya jika kita, “bekerja-bersama” dengan banyak “pribadi super”. Dengan paradigm seperti ini, kita dapat “memaksa” terjadinya berbagai inovasi dan proses kreatif.

Amoy SHOW telah berhasil memprovokasi “socially-engaged” yang baru ini; dengan menghadirkan topic bahasan komunitas @manadokota yang sangat modern dalam ber-“socially-engaged”. Provokasi ini harus diikuti oleh semua komunitas lainnya dan terus dihidupkan dalam setiap lapisan masyarakat kota. @stanlysk sangat menghargai upaya dari Pacific TV (dalam hal ini @brendachuy). Usaha ini perlu didukung terus. Langkah awal yang paling mudah untuk dilakukan adalah dengan membuatkan akun twitter buat Amoy [#ngakak, #ROTFL, #LOL); agar supaya sang amoy-muka-longsor (julukan @glenglenry buat amoy-pacific .. wkwkwkwkw) bisa ber-socially-engagged dengan lebih modern.

Apalagi kota ini, provinsi ini, bangsa ini, eh salah, dunia ini membutuhkan hiburan #ngakak kreatif dari Amoy Pacific, misalnya:
Amoy: hai cewek ... dari mana do?
@trivenaa: dari Tondano ...
Amoy: oh. ngana yang da bawa tu oto HARTOP Kuning?
@trivenaa: iyo ... kita datang deng oto HARTOP Kuning?
Amoy: oh, karja di tambang dang ngana?
@trivenaa: [bengong mode ON] #ngakak #ROTFL #LOL
(diikuti oleh @manadokota, @piet_pusung, @stanlysk, @brendachuy, @glenglenry, @adamjoo, @victorahmadian dan @achawatania) 
 [cat: cerita ini telah direkonstruksi-kembali oleh @stanlysk, kejadian sebenarnya jauh lebih lucu ... wkwkkwkw]

@stanlysk sangat menantikan hadirnya Indonesia yang penuh dengan sekumpulan “manusia-super” yang giat berinovasi dan berkreatif, mendorong pertumbuhan masyarakat, menuju kesejahteraan bangsa, mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia … menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Di hari ulang tahunnya yang ke-2, 25 Maret 2012, maka akun @manadokota semakin eksis dalam memberikan informasi terkini tentang manado. Akun ini sudah memiliki halaman website tersendiri. Website tersebut diberi nama www.manadokota.com; klik disini.

Perkembangan yang luar biasa dari akun @manadokota menunjukkan mulai munculnya masyarakat - digital di Kota Manado. Meskipun baru pada tahap awal, namun generasi C (menurut istilah dari Prof DR. Rhenald Kasali) sudah mulai muncul di Kota Manado.

Kita berharap, akun @manadokota dan www.manadokota.com akan semakin memberikan kontribusi positif dalam pengembangan Kota Manado. Penataan konten, manajemen user dan aspek security, adalah beberapa masalah krusial yang harus dibenahi oleh para admin @manadokota. Keterlibatan dengan para akademi dan peneliti Teknologi Informasi dari kalangan universitas juga perlu dipertajam!

Semua ini diperlukan untuk mewujudkan keunggulan kompetitif bagi Kota Manado khususnya dan Provinsi Sulawesi Utara pada umumnya!

Merdeka ....